Sepasang Mata dan Tubuh yang Merangkul (Bagian 2)

Mata Han sesekali mengamati gadis itu. Perlahan dia mulai berpikir tentang cita-citanya memiliki pasangan hidup. Saling bercengkrama, mengobral cerita kanak-kanak hingga tua. Tapi semua itu hanya pikiran saja. Han tidak sampai hati menyetujui hal itu. Mungkin saja Tuhan belum mempertemukan jodoh sesuai perjanjian ruh dan yang tertulis di lauhulmahfuz. 

Berhenti mengamati gadis itu, Han mengecek pesan WhatsApp. Barangkali saja ada pesan masuk yang urung dibaca. Toni pun menyela, melemparkan tanya, "Han, nggak main Tinder lagi?".
"Masih kok cuma seminggu sekali saja," pungkas Han.
"Cewek yang baru aja lewat di depan kita nggak kamu ajak ngobrol. Sana susul dia. Kami di sini aja. Toh, kamu juga lagi mikirin dia kan?" Toni mendorong bahu Han sambil menggerakkan kepala ke arah gadis itu.
"Nggak lah. Ngapain? Barangkali aja dia lagi nunggu temen. Udah kamu aja sana. Kopiku belum habis."
"Halah.. Cupu. Bilang aja malas merayu kan? Han, kamu jangan malas-malasan lah. Sampai kapan kamu nggak punya gebetan. Yang berlalu biarkan saja berlalu. Sekarang masamu untuk menyambut yang baru. Jangan cuma tahun baru aja yang kamu sambut. Jodoh juga. Kalau kamu masih tanpa aksi, mau sampai kapan Han?" Toni geram.
"Bentar, aku ke toilet dulu." Han beranjak dari kursi duduknya.
"Mau kemana Han? Toilet?" tanya Toni dan Ipang serentak. Mereka tertawa, sementara Han berlalu tanpa malu.

Perkara jodoh, kadang ada benarnya juga. Ketika tidak ada aksi nyata dan tanpa kata keterangan tentu semua hanya angan-angan. Namun, gadis itu hanya sendiri. Dia tidak berkawan. Mana lagi tempat ramai. Kalau pun diskotik masih mendingan. Semua orang suka ria, suka tawa, dan suka-suka. Belum lagi bila ternyata dia hanya menunggu teman malam atau sedang tak ingin diganggu. Mungkin bisa juga introvert. Hanya menyendiri, sendiri, dan sepi. 

Han kembali ke meja segi empat. Meletakkan rokok dan mengacungkan jari tengah pada Toni.
"Hentakkan Han..!" seru Toni.


Bersambung ... 

Komentar

Postingan Populer