Gerombolan Debu

mataku tertutup oleh kabut debu
dua jam sebelumnya aku dilanda rasa khawatir
takut jika pulang dari kantor debu aspal yang mengendap sejak pagi hari
akan berkobar layaknya api yang tersapu oleh angin
endapan debu aspal memang telah meresahkan warga sekitar
beberapa tokoh masyarakat telah melapor,
namun urung juga diberi hasil yang baik.

akhirnya ibu-ibu merasa geram
kalau pemerintah tidak segera bertindak
mereka akan mengebom gedung persembunyian
ibu-ibu akan membawa alat-alat dapur dan bumbu masak
mereka akan berdemo dengan memasak selama 24 jam

tapi kata bocah TK dan SD mereka mirip tikus
diberi bau-bau sedap dulu baru keluar

sepulang kerja, pukul 12.00 wanita-wanita keluar mencari makan
beragam panganan tersedia, mulai harga Rp500 sampai Rp50.000
setelah wanita masuk ke dalam teras warung
dua orang pekerja turun dari rumah beton
mereka lapar dan haus

sepasang tangan memegangi dan mengelus perut
belum lagi bibir kering merana, akibat tetesan air belum berhasil keluar dari penampungan

aku menyempatkan keluar kantor bersama si boy
dia baru saja masuk kerja
kemarin selasa baru diterima
katanya, di sini dia bisa sukses
karena semuanya bisa didapat dengan mudah termasuk dalam urusan pria

Boy, orang Kalimantan, tapi dia baik hati
dan tidak sombong
orang kantor senang dengannya
hampir tiap hari sebelum makan siang
orang-orang berkumpul ke ruangannya yang berada tepat
bersebelahan dengan kamar mandi pria
orang-orang tidak sedang memarahi
hanya saja mereka ingin menitipkan uang dan daftar makanan

aku keluar dengan Boy
ternyata debu aspal semakin kencang larinya
ke sana kemari mencari hiburan
masuk ke pori-pori dan selaput mata
bagi mereka yang berkacamata tentu tidak akan gusar
karena terlindung dengan kaca lensa
namun bagaimana dengan mereka yang tidak berkacamata
itulah sebabnya kerasahanku semakin memuncak

Komentar

Postingan Populer