Negeri Seberang

Sumber: Pribadi Milik Sendiri

Seorang laki-laki bertubuh tegap berjalan membungkuk dari balik pintu. Dia membawa dua kardus air mineral kemasan. Dua bola matanya serius memandang ke arahku yang tengah menanti tamu dari negeri seberang.
Kemudian dia meletakkan dua kardus air mineral itu di atas sebuah meja panjang berwarna coklat.
"Huh, lelah. Pegal sekali badan ini. Dua kardus sudah kuletakkan, dua kardus yang lain masih di ruangan. Jika saja aku punya kaki kuda, aku pasti cepat." Dia berceloteh tak menentu.
"Dari mana, mas?" tanyaku padanya.
"Dari ruang sebelah. Capek banget, mas. Mau bantu saya ambil dua kardus lagi?"
Aku berpikir sejenak. "Oh, boleh, mas. Kebetulan saya sedang menunggu tamu dari negeri seberang."
"Tamu dari negeri seberang?" Dia bertanya bingung.
Mungkin dia bingung pada kata "negeri seberang". Belum sudah dia mengajakku, aku malah ditinggalkan.
"Eh, mas. Tunggu." Aku memanggil setengah berlari.
Laki-laki itu begitu aneh. Dia yang mengajak, malah aku ditinggalkan. Tetapi, ada tulisan hitam di belakang bajunya: "Hati-hati Orang Negeri Seberang."
"Ada apa gerangan?"
Aku berpikir sembari duduk di atas bangku kayu kecil yang kaki-kakinya mulai rapuh termakan rayap. Aku membuka buku tentang hikayat orang negeri seberang. Aku memang bukan keturunan anak orang seberang. Aku hanya rakyat biasa yang makan singkong dan air gula saja sudah cukup membuat perut kenyang. Aku tidak melebihkan kekayaan orang tua. Meski begitu aku bahagia. 
Dalam buku setebal 350 halaman itu diceritakan adanya hubungan orang-orang negeri seberang yang dijelaskan pada bagian hikayat Singapura.
Selesai daripada aku membawa hikayat itu. Aku sulit menyimpulkan. Namun, keanehan terjadi kembali. Laki-laki itu mendekat ke arahku hendak mengambil buku yang kupegang. Dia ingin mengambil dan membakar buku itu. Setelah kutanyai mengapa ia tega melakukannya. Ternyata dia ingin membalas dendam. Tapi aneh, mengapa harus dengan membakar buku itu. Dia sudah kecewa pada kedua orang tuanya karena dibunuh oleh dua saudagar kaya raya keturunan negeri seberang. Keduanya membunuh dengan amat sadis, bapak dari laki-laki itu dibakar, sedangkan ibu dari laki-laki itu diperkosa lalu dibunuh. Laki-laki itu sudah meminta pertanggungjawaban dari kasus itu tapi semuanya bungkam. Akhirnya, dia benar-benar kesal dengan orang-orang negeri seberang.

Komentar

Postingan Populer