Tegang
1/
rasanya begitu penat. aku memutuskan untuk pergi ke bar and kitchen yang terletak di timur kos. jaraknya cukup jauh tapi tak perlu dikeluhkan. aku tak bersama teman atau pacar. aku sendiri dan ingin menyendiri. aku begitu bahagia kala itu.
2/
orang-orang di sana bilang, "Mas, sendiri? tidak ditemani atau ingin ditemani?" aku hanya menggeleng dan berucap terima kasih. seketika itu, mereka pergi dalam kembali ke lingkaran setan mereka yang menghadap ke stage.
3/
kini, aku kembali mengeja, menulis dan mendengarkan suara-suara bising disertai dengan pijatan mesra yang tertuang ke dalam tabung kecil. aku merasa sendiri kala itu. tapi aku tak berkeluh. aku berusaha tenang dan sepenuhnya tenang. aku tak ingin mengganggu orang sekitar dengan geguritan malam itu. aku tenang.
4/
dari bilik tirai biru itu, lelaki bertubuh tegap dan beralis tebal datang ke arahku. dia tidak lekas berkata. dia diam dan sibuk memainkan gawainya. aku tidak menggubrisnya, karena aku sendiri malas berkenalan dengan orang yang belum kukenal. aku malas.
5/
tiga puluh menit, dia masih tetap sibuk. aku berpikir positif, bisa jadi dia menunggu. aku malas berpikir aneh-aneh tentang orang yang juga sama anehnya. daripada terjadi hal yang tidak mengenakkan lebih baik aku melanjutkan catatan kecilku.
6/
benar kata pikiranku. dia hanya menunggu. namun, sebelum dia beranjak dari duduknya, dia sengaja meninggalkan secarik kertas yang bertulis angka. aku agak lama mengambil kertas itu. tak lama dari itu aku ambil juga dan aku baca. isinya: "call me, please. thanks".
7/
aku sungguh tak mengerti tentang maksud yang tertulis dari tulisan di atas kertas putih itu. aku tak berkutik. aku kembali melanjutkan tulisan dan mengeja huruf yang kutulis,
8/
tiba-tiba seorang datang, dia menyuruh untuk memasuki ruang tengah yang menghadap ke toilet pria. tidak banyak yang dikatakan hanya dua kata: "silahkan, mas."
9/
semua barang yang kuletakkan di atas meja, aku masukkan dan bangkit dari kursi sofa panjang itu. aku belum menghubungi siapapun. aku juga tidak begitu takut hanya was-was saja. aku masuk ke dalam ruangan itu dan kulihat dua orang laki-laki berbadan athletis. aku diam saja tak banyak tanya. mereka mempersilakan duduk. aku bersikap tenang. mereka pun memanggil bos besar mereka. di sekeliling ruangan memang tak ada yang mencurigakan. aku masih bersikap tenang.
10/
ternyata ... aku melihat orang itu lagi. mau apa dia. aku bertanya dalam hati. ragaku mulai berkecamuk seperti orang-orang yang berada di dalam lingkaran setan itu. tatapan matanya begitu tajam, penuh tanya, penuh harap dan penuh emosi.
rasanya begitu penat. aku memutuskan untuk pergi ke bar and kitchen yang terletak di timur kos. jaraknya cukup jauh tapi tak perlu dikeluhkan. aku tak bersama teman atau pacar. aku sendiri dan ingin menyendiri. aku begitu bahagia kala itu.
2/
orang-orang di sana bilang, "Mas, sendiri? tidak ditemani atau ingin ditemani?" aku hanya menggeleng dan berucap terima kasih. seketika itu, mereka pergi dalam kembali ke lingkaran setan mereka yang menghadap ke stage.
3/
kini, aku kembali mengeja, menulis dan mendengarkan suara-suara bising disertai dengan pijatan mesra yang tertuang ke dalam tabung kecil. aku merasa sendiri kala itu. tapi aku tak berkeluh. aku berusaha tenang dan sepenuhnya tenang. aku tak ingin mengganggu orang sekitar dengan geguritan malam itu. aku tenang.
4/
dari bilik tirai biru itu, lelaki bertubuh tegap dan beralis tebal datang ke arahku. dia tidak lekas berkata. dia diam dan sibuk memainkan gawainya. aku tidak menggubrisnya, karena aku sendiri malas berkenalan dengan orang yang belum kukenal. aku malas.
5/
tiga puluh menit, dia masih tetap sibuk. aku berpikir positif, bisa jadi dia menunggu. aku malas berpikir aneh-aneh tentang orang yang juga sama anehnya. daripada terjadi hal yang tidak mengenakkan lebih baik aku melanjutkan catatan kecilku.
6/
benar kata pikiranku. dia hanya menunggu. namun, sebelum dia beranjak dari duduknya, dia sengaja meninggalkan secarik kertas yang bertulis angka. aku agak lama mengambil kertas itu. tak lama dari itu aku ambil juga dan aku baca. isinya: "call me, please. thanks".
7/
aku sungguh tak mengerti tentang maksud yang tertulis dari tulisan di atas kertas putih itu. aku tak berkutik. aku kembali melanjutkan tulisan dan mengeja huruf yang kutulis,
8/
tiba-tiba seorang datang, dia menyuruh untuk memasuki ruang tengah yang menghadap ke toilet pria. tidak banyak yang dikatakan hanya dua kata: "silahkan, mas."
9/
semua barang yang kuletakkan di atas meja, aku masukkan dan bangkit dari kursi sofa panjang itu. aku belum menghubungi siapapun. aku juga tidak begitu takut hanya was-was saja. aku masuk ke dalam ruangan itu dan kulihat dua orang laki-laki berbadan athletis. aku diam saja tak banyak tanya. mereka mempersilakan duduk. aku bersikap tenang. mereka pun memanggil bos besar mereka. di sekeliling ruangan memang tak ada yang mencurigakan. aku masih bersikap tenang.
10/
ternyata ... aku melihat orang itu lagi. mau apa dia. aku bertanya dalam hati. ragaku mulai berkecamuk seperti orang-orang yang berada di dalam lingkaran setan itu. tatapan matanya begitu tajam, penuh tanya, penuh harap dan penuh emosi.

Komentar