Membaca Butuh Waktu
Melanjutkan postingan di story IG http://https://www.instagram.com/ariefkurniatama tertanggal 1 Januari 2019
Judul "Membaca Butuh Waktu" memang demikian adanya.
Saya, Anda, kalian, dan kita semua membutuhkan waktu untuk membaca.
Membaca tidak serta-merta mengingat, tetapi juga mencari kebaruan dari setiap kata dan kalimat yang disusun dalam tulisan. Hari ini saya membaca, lantas apakah besok saya akan membaca lagi atau minimal melanjutkan bacaan yang urung selesai? Bisa jadi tidak atau malah bermalas-malasan.
Membaca butuh waktu seperti halnya memasukkan benang dalam lubang jarum. Tidak semua orang dapat memasukkan benang dalam lubang jarum yang kecil. Apalagi jika mata minus, lupa memakai kacamata, ditambah lagi tidak sabaran. Karenanya membaca butuh waktu. Mungkin hari ini Anda diberi buku, membeli buku atau meminjam buku dari seorang teman. Keberlanjutan dari itu apakah Anda langsung membaca buku. Saya pikir tidak semua orang akan langsung membacanya, kecuali jika orang tersebut benar-benar punya waktu.
Nah, buku yang saya baca adalah sebuah antologi puisi "Yogya dalam Nafasku." Sebuah kumpulan puisi dari penulis campuran (banyak kalangan). Ada 96 penulis di dalam buku ini, salah satunya adalah seorang dosen Universitas Sebelas Maret : Nugraheni Eko Wardani.
Tiap penulis diberikan peluang untuk menuliskan dua karya terbaiknya secara bebas. Dari 96 penulis tersebut, saya baru bersedia membaca 1/8 dari jumlah keseluruhan dan itu pun membaca zig-zag. Artinya saya belum memiliki waktu yang luang untuk membaca keseluruhan karya ini. Dari 1/8 karya puisi, empat diantaranya adalah puisi karya Agus Yulianto berjudul "Tidak Ada Cinta di Kota Solo" dan "Gembar Gembor Politik Konyol", Mahroso Doloh berjudul "Berita dari Alam" dan "Berita kepada Negeri", Nugraheni Eko Wardani berjudul "Luka" dan "Raga", serta Tracy Valerian berjudul "Kerinduan" dan "Penyesalan".
Sebenarnya, buku ini terbit diprakarsai oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjunjung dan mendukung pemerintah Republik Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang sastra Indonesia, Malaysia, dan negeri serumpun, serta menjadikan sastra Indonesia sebagai sarana dan media terpandang dalam upaya meningkatkan pergaulan dan manajemen pemeliharaan seni sastra serta pengembangannya di wilayah Internasional.
Mari Membaca!!!
Judul "Membaca Butuh Waktu" memang demikian adanya.
Saya, Anda, kalian, dan kita semua membutuhkan waktu untuk membaca.
Membaca tidak serta-merta mengingat, tetapi juga mencari kebaruan dari setiap kata dan kalimat yang disusun dalam tulisan. Hari ini saya membaca, lantas apakah besok saya akan membaca lagi atau minimal melanjutkan bacaan yang urung selesai? Bisa jadi tidak atau malah bermalas-malasan.
Membaca butuh waktu seperti halnya memasukkan benang dalam lubang jarum. Tidak semua orang dapat memasukkan benang dalam lubang jarum yang kecil. Apalagi jika mata minus, lupa memakai kacamata, ditambah lagi tidak sabaran. Karenanya membaca butuh waktu. Mungkin hari ini Anda diberi buku, membeli buku atau meminjam buku dari seorang teman. Keberlanjutan dari itu apakah Anda langsung membaca buku. Saya pikir tidak semua orang akan langsung membacanya, kecuali jika orang tersebut benar-benar punya waktu.
Nah, buku yang saya baca adalah sebuah antologi puisi "Yogya dalam Nafasku." Sebuah kumpulan puisi dari penulis campuran (banyak kalangan). Ada 96 penulis di dalam buku ini, salah satunya adalah seorang dosen Universitas Sebelas Maret : Nugraheni Eko Wardani.
![]() | |
| Sumber Gambar : Kajian Sastra |
Tiap penulis diberikan peluang untuk menuliskan dua karya terbaiknya secara bebas. Dari 96 penulis tersebut, saya baru bersedia membaca 1/8 dari jumlah keseluruhan dan itu pun membaca zig-zag. Artinya saya belum memiliki waktu yang luang untuk membaca keseluruhan karya ini. Dari 1/8 karya puisi, empat diantaranya adalah puisi karya Agus Yulianto berjudul "Tidak Ada Cinta di Kota Solo" dan "Gembar Gembor Politik Konyol", Mahroso Doloh berjudul "Berita dari Alam" dan "Berita kepada Negeri", Nugraheni Eko Wardani berjudul "Luka" dan "Raga", serta Tracy Valerian berjudul "Kerinduan" dan "Penyesalan".
Sebenarnya, buku ini terbit diprakarsai oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menjunjung dan mendukung pemerintah Republik Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang sastra Indonesia, Malaysia, dan negeri serumpun, serta menjadikan sastra Indonesia sebagai sarana dan media terpandang dalam upaya meningkatkan pergaulan dan manajemen pemeliharaan seni sastra serta pengembangannya di wilayah Internasional.
Mari Membaca!!!


Komentar