Dan Terjadi Lagi
Suatu malam. Seorang bersandar di bahuku. Entah apa yang dipikirkannya. Dia mengantuk. Menunduk lesu. Katanya lirih, merintih sakit. Dia berkawan sepi malam itu. Niatnya ingin mengajukan proposal pada gurunda, akan tetapi niatnya begitu lemah. Dia lebih memilih bersandar pada bahuku yang juga lemah. Namun, dia meyakinkan bahuku takkan mudah lemah sebab bahuku memberi keikhlasan.
Ikhlas. Apa sih makna dari kata "Ikhlas" yang dipikirkannya. Apakah dia benar-benar mengatakan itu atau hanya gurauan untuk menguatkan bahuku yang lemah.
Kuputuskan malam itu untuk menahan. Benar-benar menguatkan bahu agar dirinya nyaman bersandar.
"Sudah malam. Kau begitu terlelap malam ini. Apa mungkin kita akan bermalam di ruangan ini. Cukup berdua saja." Aku membisikkan ke telinganya.
"Tunggu. Biarkan aku menghirup aroma bajumu. Ku tahu aroma ini tidak sembarangan."
"Maksudmu? Kau malah melucu malam ini. Aku enggan kau rayu apalagi kau manja. Sudah malam. Kita pindah saja."
Dia terbangun. Memintaku memopong tubuhnya. Berjalan beriringan. Menyusuri malam yang mulai diam.
"Masuklah. Tenangkan pikiranmu, hatimu, dan juga ragamu. Tuhan Maha Baik dan Maha Bijaksana. Pasrahkan saja padaNya. Kau akan baik-baik saja, kawan. Merebahlah."
"Terima kasih. Kau terbaik. Tuhan telah memberkatimu. Sampai jumpa. Selamat malam."
***
Suatu pagi. Kokok ayam telah terdengar di penjuru kamar. Orang-orang sibuk menyiapkan diri. Membereskan kamar. Menyapu. Memilah buku tulis. Menyiapkan baju lengan panjang berwarna putih. Merapikan dasi. Menyisir rambut. Menyemir sepatu. Namun, anyir kembali datang. Semerbak.
"Kau cium saja, lama-lama kau akan mual," dia berseloroh.
"Apalah ... Jijik."
"Siramlah jika kau merasa jijik. Apa kau benar-benar tidak tahu bahwa anyir datang tiap pagi. Ketika orang-orang sibuk membersihkan ruangan mereka masing-masing?"
"Sudah-sudah. Kalian ke kamarku saja. Kubuatkan segelas kopi penghangat tubuh. Kebetulan ayahku datang dari kota membelikan pemanas kopi dan pemanggang roti. Kalian juga enggan makan cepat saji kan?"
"Baiklah. Terima kasih."
***
Siang menjelang sore.
"Aku tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orang seperti dirinya bisa mengalahkan lawan seberat beruang kutub utara. Jangankan membanting, mengangkat saja mungkin dia tidak akan kuat."
"Sssttt... Berisik. Mister M datang membawa mistar panjang. Mau apa dia?"
"Mungkin saja ingin mencincang kita. Astaga ... Jemuranku lupa kuangkat." Aku pun segera berlari menuju balkon tiga.
"Mister ... dia berlari. Takut dicincang."
Orang-orang pun tertawa.

Komentar