Pilihan yang Dipilih
Sekali duduk saja. Itu sudah cukup bagimu. Lagipula pembicaraan kita tak pernah terarah. Mula-mula kau bercerita sikapnya tak sopan, lalu kau diam-diam menyudahi bahwa obrolan kita nggak bermutu. Akhirnya, kau menyimpulkan ganti topik lain saja.
Kita sudah di akhir bulan. Seleramu kok hanya itu saja. Mana yang lain? Apakah hanya ada satu orang di dunia ini? Kau boleh saja melirik banyak orang, tapi yang menarik cukup satu. Lebih dari itu, berikan pada yang membutuhkan. Atau jika kau merasa itu sulit, simpan saja.
Jangan kerap menjatuhkan vonis di awal permainan, itu tidak etis. Nanti saja, jika semua data sudah valid dan tak layak lagi diterima. Sekarang kutanya lagi padamu, "Apakah kau akan menyudahi pertandingan ini?" Coba pikirkan lagi. Mungkin kau perlu membawanya ke kasur agar kian nyaman.
Kurangi menyambangiku malam-malam, meski yang kau ungkapkan seringkali masuk akal. Tapi itu cara bodoh bertamu. Malam adalah waktu orang-orang beristirahat, menyimpan penat dan mengembalikan semangat. Lebih lagi, menyempurnakan sepertiga malam agar proposal yang diajukan terasa nikmat dan lekas diberi mandat. Tinggal kau, mau pilih yang mana.

Komentar